Breaking News

Islam Bicara Soal Cinta



#CatatanRamadhanKe-3
Islam Bicara Soal Cinta

Kalau sekelas Utsman, Ali, Umar bahkan Abdurahman saja Fatimah tidak mau apalasi saya yang orang biasa dan tidak punya apa-apa," gumam Ali dalam hatinya.

Sebagian kita mungkin tidak begitu akrab dengan kisa-kisah cinta dalam Islam, padahal banyak kisah-kisah soal cinta. Perbedaanya cinta dalam Islam bisa mengantarkan seseorang menemukan dirinya bukan justru menjauhkan seseorang dengan dirinya sendiri. Karena cinta dalam Islam bukan membakar, tapi menghangatkan.

Cinta dalam Islam akan mengantarkan seseorang tumbuh kembang dalam ketenangan meski jarang berjumpa bahkan tidak pernah bertemu sama sekali. Inilah cinta Siti Zulaikha, istri kedua Nabi Yusuf yang menemukan cinta sebenarnya setelah dihadapkan pada persoalan rumit ketika dia belum mampu memaknai cinta terhadap Yusuf.

Selama belasan tahun, Zulaikha hanya memandang dari kejauhan Yusuf yang saat itu menjadi salah satu menteri bidang ketahanan pangan. Apa yang membuat Zulaikha mampu melewati itu semua, karena dia telah menemukan cinta sejati, yaitu cinta kepada Tuhannya.

Itulah mengapa ketika Yusuf tahu Zulikha dan ingin menikahinya justru Zulaikha sempat menolak, padahal beberapa tahun silam Zulaikha cinta setengah mati kepada Yusuf. Baca baik-baik alasan Zulaikha mengapa sempat menolak lamaran Yusuf.

"Saya sudah menemukan cinta sejati, cinta kepada Tuhan. Hari-hari saya sudah merasa tenang berdzikir dan mencintai Tuhanku. Aku takut ketika menerima pinangan Yusuf akan melalaikan aku dari cintaku kepada Tuhan," kata Zulaikha mengungkapkan alasannya kepada Yusuf.

Singkat cerita, Zulaikha menerima menjadi istri kedua Yusuf itupun karena Yusuf adalah utusan Tuhan andaikan bukan dia tidak akan menerimanya. Itulah cinta penantian yang mampu mengantarkan sosok Zulaikha, wanita berdarah biru, cantik yang menemukan cinta sejatinya.

Lalu ada kisah cinta Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah binti Muhammad, puteri Rasul. Ali semula tidak percaya diri untuk menyampaikan perasaanya kepada Fatimah karena dia tahu diri posisinya sebagai pemuda yang secara ekonomi jauh berbeda dengan sahabat Rasul lain, seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman dan Abudrahman bin Auf, mereka secara ekonomi sangat mapan, tapi Ali hanya pemuda biasa yang ekonominya minus.

Ketika semua sahabat yang secara ekonomi di atas Ali melamar Fatimah ke Rasul, Fatimah menolaknya dengan sopan dan tersisa Ali. Ali masih belum percaya diri sampai beberapa sahabatnya mendorong Ali untuk mencoba.

"Apa salahnya Ali dicoba melamar Fatimah, kalau ditolak paling tidak penasaran. Semoga saja diterima," kata sahabat ke Ali. Ali pun menggerakan kakinya ke rumah Rasul dan sesampai di rumah Rasul Ali hanya terdiam, lidahnya kaku karena tidak percaya diri.

"Kalau sekelas Utsman, Ali, Umar bahkan Abdurahman saja Fatimah tidak mau apalasi saya yang orang biasa dan tidak punya apa-apa," gumam Ali dalam hatinya.

"Ada apa Ali"? Tanya Rasul. Ali terdia,
"Ada apa Ali? tanya rasul kedua kalinya dan Ali masih terdiam
sampai ketiga kalinya Rasul langsung tahu apa yang sebenarnya ingin Ali sampaikan.

"Kamu mau meminang Fatimah? tanya Rasul. Ali kaget dan langsung meniyakan. Rasulpun mengatakan Insya Allah Fatimah memang dijodohkan untukmu.

"Nanti saya tanyakan ya ke Fatimah? kata Rasul dan ternyata benar Fatimah langsung bersedia dan akhirnya mereka menikah. Setelah menikah Ali dan Fatimah berbincang dan Ali mengatakan kepada Fatimah.

"Sebelum menikah saya sebenarnya tertarik dan mencintai seorang wanita, tapi saya tidak berani maka saya memilih diam? kata Ali kepada Fatimah.

"Siapakah wanita itu Ali? tanya Fatimah
"Wanita itu adalah engkau Fatimah" kata Ali
Dan ternyata apa yang dirasakan Ali juga sama dirasakan Fatimah karena sebenarnya dia juga mencintai Ali tapi tidak berani.

Inilah kisah cinta dalam diam antara Ali dan Fatimah. Ada juga cinta pengorbanan seperti kisah cinta antara Nabi Ibrahim dan Bunda Hajar, istri kedua Ibrahim.

Proses pernikahan Ibrahim dan Hajar sebenarnya atas permintaan Sarah, istri Ibrahim. Tapi namanya wanita maka setelah menikah dan memiliki anak, Sarah cemburu kepada Hajar dan Ismail sampai akhirnya mereka berdua keluar dari rumah dan ditempatkan di pada pasir yang gersang tidak ada kehidupan.

Kisah fenomenal inilah yang kemudian menjadi salah satu rukun haji sampai sekarang. Cinta pengorbanan yang luar biasa sebagaimana kisah cinta Asiah dengan Raja Fir;aun.

Dan terakhir ada kisah cinta Agung, yaitu kisah cinta Rasul dengan Khodijah. Cinta yang menembus batas materialistik, gengsi dan ego. Itulah mengapa Rasul sangat merasa kehilangan dengan Khodijah karena cinta mereka benar-benar agung.

Dan sebenarnya banyak kisah cinta dalam Islam yang menjadi pelajaran kita dan sarat makna, jauh dari kesan drama. Kisah cinta dalam Islam berbeda dengan romantisme masa Yunani yang justru menjauhkan seseorang dengan dirinya apalagi dengan Tuhan.

Cinta dalam Islam bukan membakar tapi menghangatkan, cinta dalam Islam menghantarkan seseorang menemukan dirinya dengan diri sendiri dan Tuhan. Cinta dalam Islam menenangkan meski tak pernah berjumpa, cinta dalam Islam cinta yang bisa saling menumbuh kembangkan bukan saling mematikan.

-Bersambung-
Penulis,
Karnoto

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close