Breaking News

Revolusi Damai Ramadhan



#CatatanRamadhan [Bagian-2]
Revolusi Damai Ramadhan

Mereka ketakutan dan sudah membayangkan bahwa Mekah akan porak poranda, akan dibunuh dan diusir dan rampas harta benda mereka. Karena begitulah biasanya yang terjadi dan mereka lakukan terhadap Rasul dan para sahabatnya.


Pada tulisan sebelumnya saya membahas peristiwa turunnya Quran di Bulan Ramadhan maka kali ini saya ingin diskusi soal peristiwa dahsyat yang terjadi di bulan Ramadhan.

Fathu Mekah, inilah peristiwa hebat yang terjadi pada 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah. Sebuah gerakan revolusi damai yang hanya terjadi di masa Rasul.

Peristiwa bersejarah ini ditandai dengan masuknya Nabi Muhammad SAW dan 10.000 pasukan Muslim ke Makkah secara damai tanpa pertumpahan darah, menandai berakhirnya penguasaan kafir Quraisy.

Sebelum Rasul dan pasukannya masuk ke Mekah suasana penduduk Mekah, terutama elit Mekah sangat panik, galau dan bingung. "Habis sudah kita nih, tamat riwayat kita, Pokonya nasib kita game over" kira-kira begitu suasana kebatinan para elit kafir Qurais setelah mengetahui posisi mereka sudah tidak aman lagi dengan kedatangan Rasul dengan ribuan umat Muslim.

Para elit kafir Qurais, diantaranya Abu Sufyan, Abu Jahal di dalam Mekah ketika itu dalam situasi dramatis, mencekam dan penuh kegalauan. Disini ada dua sikap berbeda antara Abu Sufyan dan Abu Jahal melihat situasi menegangkan dan berada pada posisi tertekan.

Abu Sufyan berpikir rasional dengan situasi tidak menguntungkan tersebut sehingga ia menemui Rasul dan akhirnya masuk Islam. Sementara Abu Jahal memilih untuk bertahan dengan pilihannya, bahkan dia sempat melakukan perlawanan kecil meski akhirnya tidak berdaya, tapi dia tetap memilih bertahan dengan kekafirannya.

Sementara itu, di luar kota Mekah Rasul dan ribuan pasukannya stanbdy di salah satu bukit. Rasul sengaja menginap di perbukitan, bukan tanpa alasan ini adalah strategi perang psikologis. Dengan jumlah ribuan pasukan dan berada di dataran tinggi maka akan terlihat jelas dari Mekah, terutama saat malam hari dimana obor ribuan menyala.

Secara psikologis, jelas ini akan membuat ciut kafir Qurais karena melihat betapa besar dan banyaknya pasukan Muslim karena melihat dari kejauhan. Dan ini bukan hanya satu arah, tapi dari empat arah maka wajar kalau elit kafir Qurais gemetaran dan merasakan ketakutan luar biasa.

Setelah menginap di perbukitan, keesokan harinya Rasul mulai menggerakan pasukannya secara rapi dengan berjejer sehingga tidak ada arah yang bisa dilewati. Suara takbir, hentakan kaki ribuan pasukan Muslim semakin terdengar nyaring dengan mengguncang Mekah.

Mereka ketakutan dan sudah membayangkan bahwa Mekah akan porak poranda, akan dibunuh dan diusir dan rampas harta benda mereka. Karena begitulah biasanya yang terjadi dan mereka lakukan terhadap Rasul dan para sahabatnya.

Gema takbir semakin nyaring, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar dan akhirnya sampailah di perbatasan Mekah dan sebelum masuk Rasul memberikan arahan kepada ribuan pasukannya itu.

"Dengarkan saya, tidak ada yang menjarah, membunuh, mengusir apalagi menyakiti para penduduk Mekah kecuali beberapa orang munafik yang saya sebutkan" demikian arahan Rasul sampai akhirnya masuk.

Begitu pasukan mulai melangkah masuk ke kota Mekah, pintu penduduk tertutup termasuk para elit kafir Qurais. Mereka tidak ada yang berani keluar dan dalam keadaan takut dan pasrah karena tidak bisa melawan sebagaimana dulu pernah mereka lakukan kepada Rasul dan para sahabatnya.

Melihat situasi ini, kembali Rasuk memberikan pidato yang ditujukan kepada penduduk Mekah. Intinya Rasul sampaikan bahwa kedatangannya tidak untuk perang dan tidak akan memerangi, siapa yang mengikutinya maka akan selamat, dan akan tetap menghormati penduduk Mekah selama bisa hidup berdampingan.

Dari sinilah penduduk Mekah berhamburan keluar rumah dan memeluk Islam, kecuali ada beberapa orang munafik yang kemudian dikejar. Inilah Fathu Mekah (penguasaan Kota Mekah), sebuah gerakan revolusi damai yang terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Tidak ada revolusi sedamai revolusi yang dilakukan Rasul dan pasukannya.

Dan ini terjadi pada Bulan Ramadhan, bukan bulan yang lain. Inilah mengapa Ramadhan menjadi poros peradahan Islam karena dari bulan ini kita belajar tentang berbagai perubahan mendasar yang arahannya langsung dari Rasul.

Penulis,
Karnoto

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close