Kalau kalian berani jatuh cinta maka harus berani menanggung luka karena dalam cinta apapun pasti akan ada luka, kecuali cinta kepada Tuhan.
Meja bundar di sebuah taman yang rindang menjadi saksi bisu bahwa kami pernah bertemu membangun jembatan pengertian. Taman ini berada di area timur Masjid Syekh Nawawi Al-Bantani, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten.
Tempatnya adem karena didekap pohon besar, dikelilingi tembok yang mengitari kawasan masjid. Ada kedamaian di taman ini, bukan hanya karena berada di samping masjid tetapi ada kesunyian karena jauh dari kebisingan.
Di tempat ini saya bertemu dengan empat mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, mereka adalah aktivis. Tiga dari FKIP dan satu lagi mahasiswa komunikasi.
Nijar, dia yang menjadi jembatan mengapa kita akhirnya bertemu dan diskusi tentang banyak hal, mulai dari pendidikan, komunikasi, psikologi hingga tentang kehidupan masa depan.
"Satu hal yang mesti dirawat oleh teman-teman adalah merawat tradisi ilmiah karena ini ciri khas komunitas intelektual," kata saya kepada mereka.
Karena sesungguhnya kuliah itu adalah cara kita terlatih untuk terbiasa dengan tradisi ilmiah. Kuliah sebenarnya cara agar struktur berpikir kita sistematis sehingga bisa menjadi problem solving.
Lalu saya memberikan trigger kepada mereka tentang masa depan guru. "Pernahkah kalian melakukan riset apa yang sebenarnya terjadi dengan pendidikan kita. Dan dari riset kita itu didorong menjadi sebuah kebijakan?" tantang saya kepada mereka.
Level mahasiswa sebenarnya bukan pada titik kita bisa kritis melainkan sudah pada tahap bagaimana memberikan jalan keluar terhadap problem sosial melalui riset yang dilakukan. "Itu sebenarnya level kampus, kalau level kritis itu adanya di tingkat SMA," kata saya.
"Menarik juga Bang nih buat kita," kata mereka. "Nah ini Bang yang sebenarnya kita inginkan. Jadi semangat nih kita melakukan itu," kata mereka.
Apalagi latarbelakang pendidikan nanti ditambah ada problem apa sebenarnya pada guru selama ini dari perspektif komunikasi, psikologi dan penguasaan bahan ajar sehingga nanti pada kesimpulan riset itu komprehensif atau tidak parsial.
"Siap Bang kita coba," kata mereka dengan mimik wajah penuh optimisme.
Tidak terasa diskusi kami sudah gerak tiga jam dan berakhir pas suara adzan terdengar nyaring. Obrolan kita selama tiga jam itu tidak hanya soal berat, tetapi diselingi soal kehidupan masa depan.
Mulai dari luka batin, jodoh hingga cinta. "Sebenarnya nih ya, bukan karena bertemu lalu berjodoh tapi karena berjodoh lalu dipertemukan," kata saya kepada mereka. Mendengar quotes itu mereka senyum-senyum.
Karena banyak yang menjalin hubungan lama tapi karena tidak berjodoh maka tidak bisa melanjutkan ke pernikahan. Sebaliknya, karena berjodoh maka dipermudah jalannya. Ada yang bertemu cuma sebulan, dua bulan bahkan seminggu dan langsung menikah.
Saya menangkap ekspresi wajah mereka serius dan memberikan kode agar pembahasan itu dilanjutkan. Dan saya pun melanjutkan lebih dalam lagi ke persoalan luka batin dan cinta.
Saya katakan mereka, kalau kalian berani jatuh cinta maka harus berani menanggung luka karena dalam cinta apapun pasti akan ada luka, kecuali cinta kepada Tuhan. "Itulah mengapa cinta itu sebenarnya adalah permainan orang dewasa, karena pasti akan terluka," kata saya.
Ekspresi mereka kembali memberikan sinyal seperti meminta saya untuk melanjutkan soal ini. Khalifah, salah satu dari mereka yang punya latarbelakang komunikasi langsung menatap ke saya seperti meminta agar diperdalam pembahasan tentang ini.
Di ujung obrolan saya sampaikan ke mereka satu kalimat yang bisa dipegang. "Sebelum kalian menikah, sembuhkan dulu luka batin kalian karena nanti setelah rumah tangga akan ada luka baru," kata saya kepada mereka.
Kalau kalian tidak sembuhkan luka batin saat sendiri maka akan menjadi problem nanti ketika rumah tangga, apalagi pasangan kalian juga membawa luka sendiri.
Ditengah obrolan kami, matahari mulai beranjak ke peraduannya untuk istirahat dan berganti malam. Begitulah kehidupan, silih berganti. Ada siang, ada malam.
Karnoto



0 Komentar