Breaking News

Belajar Branding Personal dari Rasul




Kalau kita membaca literasi sejarah Islam maka disana akan kita temukan teori-teori yang menjadi dasar penemuan teori modern.

Bicara personal branding itu sama halnya kita membicarakan branding produk. Karena pada hakikatnya diri kita adalah produk. Layaknya sebuah produk maka sejatinya memang harus dibranding. Dan kalau kita bicara personal branding sebenarnya Islam sudah mengajarkan kepada kita.

Sedikit saya kasih bocoran disini ya. Kalian tahu empat sahabat Rasul? Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan dan Abu Bakar Shidiq. Mereka itu dibranding Rasul secara sistematis, terencana dan terukur.

Bukti baha empat sahabat Rasul itu punya brand personal adalah publik mengenal mereka dengan karakteristiknya masing-masing. Misal, Umar Tegas, Abu Bakar Bijak, Ali Cerdas dan Utsman Dermawan.

Dan brand itu melekat pada mereka sehingga publik mengenal mereka dengan brandingnya masing-masing. Bahkan Rasul sendiri sudah punya branding personal sejak remaja yaitu dengan sebutan Muhammad Al Amin. Jadi, Al Amin itu taglin personal Rasul sejak lama dan terus dirawat branding personal itu.

Dari sejarah ini saya bisa menyimpulkan bahwa branding personal bukan rekayasa kepribadian, tetapi bagaimana meletupkan potensi atau keunikan dari diri kita masing-masing. Rasul tidak diminta Umar merubah karakteristik tegasnya, begitupun Abu Bakar tidak diminta Rasul menjadi tegas seperti halnya Umar.

Begitulah cara kerja branding personal, bekerja secara sistematis dengan keunikan masing-masing, tetap menjadi diri sendiri.

Ketika sejumlah suku di Arab merasa berhak menempatkan batu hajar aswad maka nyaris terlibat perang saudara dan disitulah Muhammad tampil menjadi penengah. Di lepas sorban Muhammad dan batunya ditaruh di atas sorban lalu masing-masing elit suku memegang ujung sorban dan dibawa bersama ke Ka'bah. 

Ada juga peristiwa ketika Rasul hendak hijrah lalu Ali dipanggil untuk membagikan barang-barang orang Quraisy yang dititipikan kepadanya. Dua peristiwa kalau kita sebut dalam teori branding modern disebut activity branding, sebuah aktivitas branding untuk memperkuat.

Begitu pun kita bisa melihat aktivitas branding personal empat sahabat Rasul. Ada kisah Utsman dengan branding personal dermawannya. diantaranya kisah Utsman membeli sumur Yahudi lalu digratiskan, kisah Utsman membeli Bilal saat dihukum.

Kalau kita membaca literasi sejarah Islam maka disana akan kita temukan teori-teori yang menjadi dasar penemuan teori modern. Memang istilahnya saat itu bukan branding tetapi dari sisi cara kerja branding personal maka jelas sekali apa yang Rasul dan empat sahabat lakukan itu adalah bagian dari branding personal.

Dari sejarah ini kita bisa tarik benang merahnya tentang branding personal. Pertama branding itu bicara proses, artinya butuh waktu untuk membangunnya. Kedua, konsistensi sehingga publik mengenal dana branding itu melekat pada diri kita dan terakhir adanya aktivitas branding yang selaras dengan brand personalnya.

Ketika kita membangun branding personal sebagai sosok cerdas maka segala yang menjadi instrumen harus selaras dengan brand yang kita bangun. Tidak bisa misalkan, Anda ingin membangun branding personal cerdas tapi aktivitasnya joged-jogedan atau lawakan yang tidak berkelas, jelas ini akan mengganggu branding personal Anda.

Apapun branding personal Anda, terpenting adalah Anda menemukan siapa diri Anda. Anda tidak akan mampu melakukan branding personal sebelum menemukan siapa diri Anda. 

Seperti halnya mau menjual produk tetapi Anda sendiri tidak tahu tentang produk Anda maka akan kesulitan dan tidak akan bekerja dengan baik aktivitas branding yang Anda lakukan. Maka dari itu sebelum melakukan atau bicara branding personal, langkah pertama adalah temukan terlebih dahulu siapa diri Anda.

Penulis,
Karnoto

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close